Sabtu, 22 Februari 2014

∞ BOSSKU ITU SAHABATKU.. ∞



Rapat Anggota Tahunan yang telah diselenggarakan ternyata telah mampu melahirkan pemimpin baru di kepengurusan organisasi yang ku naungi. Semula, aku tak menyangka bahwa yang akan memerintahku dan menyuruhku melakukan semua tugas tugas organisasi itu adalah sahabatku, orang yang selama ini selalu berjasa dalam hidupku. Dia memang tak pernah mempertaruhkan nyawanya demi keselamatanku, tapi dia adalah orang pertama yang tahu akan keluh kesahku selama masalah menimapku satu per satu dulu. Dialah sosok yang setia tanpa pernah lelah dan letih menghiburku, walau sejatinya aku tahu dia begitu kebingungan menyelesaikan masalahku yang terbilang rumit dan memiliki konsekuensi tinggi. Dan tak main-main kuliahku sempat jadi taruhannya, hingga pada puncaknya nilai IP ku turun lumayan walau tak bisa kubilang parah. Tak hanya itu, dialah orang yang selalu menilai aku dari sisi yang berbeda. Jujur aku katakan, selama aku kuliah dan menuntut ilmu hampir 2 tahun lamanya di kota Jember, aku belum pernah sekalipun menemukan seorang teman yang begitu peduli pada temannya dan menilai orang dari sisi yang berbeda. Aku pikir semua temanku yang ada di kota ini menilai aku hanya karena disaat aku ada diatas, tapi justru meninggalkan aku saat aku dibawah. Jujur, aku nggak butuh orang yang seperti itu. Lebih baik aku hanya memiliki satu teman tapi dia mau mengerti aku dan mau menerima aku apa adanya, bukan karena ada apanya. Dan, selama ini itulah penilaian aku kepada hampir semua teman-temanku. Namun, ternyata penilaian itu salah. Jauh sebelum Rapat Anggota Tahunan itu, aku berusaha dengan sangat susah payah menghabiskan hampir seluruh waktu libur akhir tahunku hanya di depan laptop demi membuat sebuah kado yang berkesan di hari ulang tahunnya.  
            Tak henti-hentinya aku berusaha memberikan sesuatu yang bisa meninggalkan kesan mendalam hingga akhir hayatnya.  Jujur, setiap kali sahabat-sahabatku berulang tahun, aku tak pernah memberi mereka kaos, topi, atau barang sejenisnya karena bagiku, mereka bisa membelinya dengan hasil jerih payah mereka sendiri. Aku hanya ingin memberikan sesuatu yang bisa mereka kenang seumur hidup walau pada akhirnya takkan lagi bertemu dengan sang pemberi kado karena telah terpisah jarak dan waktu. Akhirnya, aku pun berniat akan memberikannya tepat dihari ulang tahunnya yang ke-20. Tapi ternyata, takdir berkata lain. Aku sedikit kecewa karena aku tak bisa memberikannya secara langsung, oleh karena itu sebagai gantinya aku pun memberikannya secara dua kali selang beberapa hari setelah ulang tahunnya dan pas sebelum aku meninggalkannya sementara pulang ke kampung halamanku tercinta. Jika dilihat dari harga, kedua barang itu memang terbilang cukup murah. Aku yakin kalau dia bisa membelinya. Tapi, lewat tulisan ini aku hanya ingin bilang sama dia, “sahabatku,, jauh dari lubuk hatiku hanya permohonan maaf yang tulus yang bisa aku haturkan padamu. Maaf karena aku tak bisa penuhi janjiku untuk memberikan ini padamu tepat dihari ulang tahunmu, walau aku tahu itu janjiku hanya pada-Nya bukan padamu. Tapi bagiku, itu juga sebuah janji dan aku diliputi rasa bersalah karena aku tak bisa penuhi janjiku. Walau pada akhirnya aku berhasil mengganti janjiku dan kaupun tampak senang, namun tetap saja rasa bersalah itu ada padaku. Sahabatku.. kau lebih dari apapun yang ada. Aku tahu betapa besarnya pengorbananmu yang begitu peduli padaku saat tak ada satupun orang yang mau peduli padaku. Aku tak menyangka kalau kamu berbeda dari lainnya. Semoga aku tak salah menilai mu sahabat…”
            Dan kini, tak lain dan tak bukan dia adalah boss sekaligus sahabatku. Aku begitu menikmati peran baru ini dalam lakon sandiwara hidup yang telah aku jalani beberapa hari. Walau hanya masih singkat, namun jujur aku begitu menikmati posisi ini. Aku tidak tahu mengapa, padahal aku telah berada di posisi ini sejak setahun sebelumnya. Tak sedikit yang bertanya padaku mengapa aku mau berada di posisi ini. Tidakkah aku merasa bosan, ataupun penat dengan segala kegiatan yang begitu membosankan mengingat tugasku tak jauh berbeda dari tahun sebelumnya. Banyak dari mereka yang justru kecewa dengan sikapku yang hanya mengiyakan saja amanah yang diberikannya kepadaku.  Tapi, sebuah ungkapan jujur dari dalam lubuk hati, aku hanya ingin mencurahkan semua yang berkecamuk dalam pikiranku yang bercampur baur menjadi satu. Aku sadar dengan posisiku sekarang. Jika banyak orang yang bertanya padaku apakah aku menikmatinya atau tidak, maka aku akan jawab aku sangat menikmatinya. Jika ada yang bertanya padaku apakah aku tidak jenuh dengan segala aktivitas organisasi yang kulakoni nyaris sama dengan sebelumnya, jujur aku jawab aku tidak pernah jenuh. Disini, bukan karena dia bossku semata aku mengiyakan saja amanah itu. Aku pernah bertanya pada boss ku, “boss, kenapa kau tetap memberikan aku tanggung jawab yang sama ? tidakkah kau akan merasa bahwa kau akan dinilai sebagai pemimpin yang tidak bisa merotasi anak buahmu ?”. Dan, jawaban boss ku, “Aku lebih tahu kemampuanmu dan professionalitas mu dan aku yakin kau lebih tahu menangani masalah ini daripada harus kulimpahkan ke yang lain”.
            Saat itulah aku diam tak berkutik. Selang beberapa detik lamanya aku merenungi apa kata dia. Hingga akhirnya aku menemukan sebuah jawaban yang begitu sangat indah dan lugas. Aku yakin, dia lebih tahu kemampuanku daripada diriku. Karena menurutku, seseorang tidak bisa menilai dirinya sendiri mampu atau tidak mengemban suatu amanah. Hanya orang lainlah yang tau apakah diri kita mampu atau tidak mengembannya. Ini bukan soal jabatan, atau ingin mencari nama besar. Karena dari dulu, dalam setiap event yang melibatkan ku, aku tidak pernah mau menjadi seorang pemimpin. Bukan karena aku tidak mampu atau tidak siap, karena menurutku aku belum bisa memimpin diriku sendiri dengan baik, malah aku memimpin orang lain yang watak dan kepribadiannya pastilah berbeda. Jadi, lebih baik aku menjadi bawahan dalam arti pikiranku bisa dipakai untuk membantu semua lebih baik. Kalau bicara soal totalitas, jujur aku bukan orang yang suka mencampur adukkan masalah pribadi dengan pekerjaan. Bagiku, saat aku bekerja di organisasi, sang boss pasti memintaku untuk total dan tidak main-main dengan tanggung jawabku. Dan, aku akan berusaha untuk total demi sebuah professionalitas.
            Bossku, di organisasi aku akan menghormatimu sebagai atasanku bukan sebagai sahabatku. Aku hanya ingin menempatkan diri pada tempat yang sebenarnya. Di organisasi, aku akan berjanji untuk bersikap netral dan total dalam mengemban kepercayaan yang telah kau berikan kepadaku. Aku tidak mengeluh dengan posisiku, karena aku tahu kau telah memutuskan yang terbaik buatku. Aku tidak akan marah apabila nanti kau akan memarahiku atau mengacuhkanku karena aku tahu saat itu mungkin aku telah mengecewakanmu dan aku tak berhasil melakukan tugasku. Silahkan kau marahi aku, silahkan kau acuhkanku karena dengan begitu aku bisa belajar untuk menjadi yang lebih baik. Bossku, disini aku masih buuth bimbinganmu, disini aku masih mau meneladani kegigihanmu dan aku tahu kau dipih karena kau yang terbaik dari yang terbaik.
            Bossku, kau sahabatku. Kau adalah orang pertama yang akan aku beritahu apapun mengenai aku, dan aku sadar ketegasan ucapanmu, omelanmu, atau cerewetmu adalah bukti bahwa kau peduli padaku. Terima kasih karena telah mau menjadi sahabatku, terima kasih karena telah menemaniku di setiap detik hidup dan derap langkahku. Terima kasih karena telah menjadi boss yang baik bagiku, dan aku menyadari perubahan itu adalam diriku semenjak kehadiranmu. Semoga Allah selalu memberikan yang terbaik buatmu dan semoga Allah akan mempertemukanmu dengan ku suatu saat nanti saat kita telah sama-sama menggapai mimpi. Terima Kasih Bossku, kau memang boss sekaligus sahabat yang baik buatku. (dudu tika)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar