Rapat Anggota
Tahunan yang telah diselenggarakan ternyata telah mampu melahirkan pemimpin
baru di kepengurusan organisasi yang ku naungi. Semula, aku tak menyangka bahwa
yang akan memerintahku dan menyuruhku melakukan semua tugas tugas organisasi
itu adalah sahabatku, orang yang selama ini selalu berjasa dalam hidupku. Dia
memang tak pernah mempertaruhkan nyawanya demi keselamatanku, tapi dia adalah
orang pertama yang tahu akan keluh kesahku selama masalah menimapku satu per
satu dulu. Dialah sosok yang setia tanpa pernah lelah dan letih menghiburku,
walau sejatinya aku tahu dia begitu kebingungan menyelesaikan masalahku yang
terbilang rumit dan memiliki konsekuensi tinggi. Dan tak main-main kuliahku
sempat jadi taruhannya, hingga pada puncaknya nilai IP ku turun lumayan walau
tak bisa kubilang parah. Tak hanya itu, dialah orang yang selalu menilai aku
dari sisi yang berbeda. Jujur aku katakan, selama aku kuliah dan menuntut ilmu
hampir 2 tahun lamanya di kota Jember, aku belum pernah sekalipun menemukan
seorang teman yang begitu peduli pada temannya dan menilai orang dari sisi yang
berbeda. Aku pikir semua temanku yang ada di kota ini menilai aku hanya karena
disaat aku ada diatas, tapi justru meninggalkan aku saat aku dibawah. Jujur,
aku nggak butuh orang yang seperti itu. Lebih baik aku hanya memiliki satu
teman tapi dia mau mengerti aku dan mau menerima aku apa adanya, bukan karena
ada apanya. Dan, selama ini itulah penilaian aku kepada hampir semua teman-temanku.
Namun, ternyata penilaian itu salah. Jauh sebelum Rapat Anggota Tahunan itu, aku
berusaha dengan sangat susah payah menghabiskan hampir seluruh waktu libur
akhir tahunku hanya di depan laptop demi membuat sebuah kado yang berkesan di
hari ulang tahunnya.
Tak henti-hentinya aku berusaha
memberikan sesuatu yang bisa meninggalkan kesan mendalam hingga akhir hayatnya.
Jujur, setiap kali sahabat-sahabatku
berulang tahun, aku tak pernah memberi mereka kaos, topi, atau barang sejenisnya
karena bagiku, mereka bisa membelinya dengan hasil jerih payah mereka sendiri.
Aku hanya ingin memberikan sesuatu yang bisa mereka kenang seumur hidup walau
pada akhirnya takkan lagi bertemu dengan sang pemberi kado karena telah
terpisah jarak dan waktu. Akhirnya, aku pun berniat akan memberikannya tepat
dihari ulang tahunnya yang ke-20. Tapi ternyata, takdir berkata lain. Aku
sedikit kecewa karena aku tak bisa memberikannya secara langsung, oleh karena
itu sebagai gantinya aku pun memberikannya secara dua kali selang beberapa hari
setelah ulang tahunnya dan pas sebelum aku meninggalkannya sementara pulang ke
kampung halamanku tercinta. Jika dilihat dari harga, kedua barang itu memang
terbilang cukup murah. Aku yakin kalau dia bisa membelinya. Tapi, lewat tulisan
ini aku hanya ingin bilang sama dia, “sahabatku,, jauh dari lubuk hatiku hanya
permohonan maaf yang tulus yang bisa aku haturkan padamu. Maaf karena aku tak
bisa penuhi janjiku untuk memberikan ini padamu tepat dihari ulang tahunmu,
walau aku tahu itu janjiku hanya pada-Nya bukan padamu. Tapi bagiku, itu juga
sebuah janji dan aku diliputi rasa bersalah karena aku tak bisa penuhi janjiku.
Walau pada akhirnya aku berhasil mengganti janjiku dan kaupun tampak senang,
namun tetap saja rasa bersalah itu ada padaku. Sahabatku.. kau lebih dari
apapun yang ada. Aku tahu betapa besarnya pengorbananmu yang begitu peduli
padaku saat tak ada satupun orang yang mau peduli padaku. Aku tak menyangka
kalau kamu berbeda dari lainnya. Semoga aku tak salah menilai mu sahabat…”
Dan kini, tak lain dan tak bukan dia
adalah boss sekaligus sahabatku. Aku begitu menikmati peran baru ini dalam
lakon sandiwara hidup yang telah aku jalani beberapa hari. Walau hanya masih
singkat, namun jujur aku begitu menikmati posisi ini. Aku tidak tahu mengapa,
padahal aku telah berada di posisi ini sejak setahun sebelumnya. Tak sedikit
yang bertanya padaku mengapa aku mau berada di posisi ini. Tidakkah aku merasa
bosan, ataupun penat dengan segala kegiatan yang begitu membosankan mengingat
tugasku tak jauh berbeda dari tahun sebelumnya. Banyak dari mereka yang justru
kecewa dengan sikapku yang hanya mengiyakan saja amanah yang diberikannya
kepadaku. Tapi, sebuah ungkapan jujur
dari dalam lubuk hati, aku hanya ingin mencurahkan semua yang berkecamuk dalam
pikiranku yang bercampur baur menjadi satu. Aku sadar dengan posisiku sekarang.
Jika banyak orang yang bertanya padaku apakah aku menikmatinya atau tidak, maka
aku akan jawab aku sangat menikmatinya. Jika ada yang bertanya padaku apakah
aku tidak jenuh dengan segala aktivitas organisasi yang kulakoni nyaris sama
dengan sebelumnya, jujur aku jawab aku tidak pernah jenuh. Disini, bukan karena
dia bossku semata aku mengiyakan saja amanah itu. Aku pernah bertanya pada boss
ku, “boss, kenapa kau tetap memberikan aku tanggung jawab yang sama ? tidakkah
kau akan merasa bahwa kau akan dinilai sebagai pemimpin yang tidak bisa
merotasi anak buahmu ?”. Dan, jawaban boss ku, “Aku lebih tahu kemampuanmu dan
professionalitas mu dan aku yakin kau lebih tahu menangani masalah ini daripada
harus kulimpahkan ke yang lain”.
Saat itulah aku diam tak berkutik.
Selang beberapa detik lamanya aku merenungi apa kata dia. Hingga akhirnya aku
menemukan sebuah jawaban yang begitu sangat indah dan lugas. Aku yakin, dia
lebih tahu kemampuanku daripada diriku. Karena menurutku, seseorang tidak bisa
menilai dirinya sendiri mampu atau tidak mengemban suatu amanah. Hanya orang
lainlah yang tau apakah diri kita mampu atau tidak mengembannya. Ini bukan soal
jabatan, atau ingin mencari nama besar. Karena dari dulu, dalam setiap event
yang melibatkan ku, aku tidak pernah mau menjadi seorang pemimpin. Bukan karena
aku tidak mampu atau tidak siap, karena menurutku aku belum bisa memimpin
diriku sendiri dengan baik, malah aku memimpin orang lain yang watak dan
kepribadiannya pastilah berbeda. Jadi, lebih baik aku menjadi bawahan dalam
arti pikiranku bisa dipakai untuk membantu semua lebih baik. Kalau bicara soal
totalitas, jujur aku bukan orang yang suka mencampur adukkan masalah pribadi
dengan pekerjaan. Bagiku, saat aku bekerja di organisasi, sang boss pasti
memintaku untuk total dan tidak main-main dengan tanggung jawabku. Dan, aku
akan berusaha untuk total demi sebuah professionalitas.
Bossku, di organisasi aku akan menghormatimu
sebagai atasanku bukan sebagai sahabatku. Aku hanya ingin menempatkan diri pada
tempat yang sebenarnya. Di organisasi, aku akan berjanji untuk bersikap netral
dan total dalam mengemban kepercayaan yang telah kau berikan kepadaku. Aku
tidak mengeluh dengan posisiku, karena aku tahu kau telah memutuskan yang
terbaik buatku. Aku tidak akan marah apabila nanti kau akan memarahiku atau
mengacuhkanku karena aku tahu saat itu mungkin aku telah mengecewakanmu dan aku
tak berhasil melakukan tugasku. Silahkan kau marahi aku, silahkan kau acuhkanku
karena dengan begitu aku bisa belajar untuk menjadi yang lebih baik. Bossku,
disini aku masih buuth bimbinganmu, disini aku masih mau meneladani kegigihanmu
dan aku tahu kau dipih karena kau yang terbaik dari yang terbaik.
Bossku, kau sahabatku. Kau adalah
orang pertama yang akan aku beritahu apapun mengenai aku, dan aku sadar
ketegasan ucapanmu, omelanmu, atau cerewetmu adalah bukti bahwa kau peduli
padaku. Terima kasih karena telah mau menjadi sahabatku, terima kasih karena
telah menemaniku di setiap detik hidup dan derap langkahku. Terima kasih karena
telah menjadi boss yang baik bagiku, dan aku menyadari perubahan itu adalam
diriku semenjak kehadiranmu. Semoga Allah selalu memberikan yang terbaik buatmu
dan semoga Allah akan mempertemukanmu dengan ku suatu saat nanti saat kita
telah sama-sama menggapai mimpi. Terima Kasih Bossku, kau memang boss sekaligus
sahabat yang baik buatku. (dudu tika)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar