Sabtu, 09 Maret 2013

AIR MATA BUNDA



‘’BRAKKK’’.. terdengar suara pintu yang ku banting ketika aku harus menerima kenyataan tidak bisa melanjutkan kuliah ke Amsterdam, Belanda. Rupanya ibuku mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada ku saat ini. “Sayang… ada apa ??? boleh ibu membuka pintunya ?’’, kata ibuku seraya merayuku. Aku pun diam membisu dan membuat ibuku membuka kamarku perlahan.
“Sayang.. jangan sedih dengan semua ini. Mungkin ada rencana lain Allah di balik batalnya rencana ini”, kata ibuku menasehatiku. “Bu.. coba ibu pikir, apa ibu tidak kecewa jika harus menerima kegagalan yang pertama kalinya ?”, gugatku. “Rani.., Percayalah Allah telah mengatur semua yang terbaik untuk hamba-hambanya..” kata ibu ku seraya mengelus-elus rambutku. Aku pun tetap diam tak menjawab. Aku tau, ibuku adalah orang yang paling bersedih ketika mengetahui kabar bahwa aku tidak jadi menerima beasiswa ke negeri kincir angin itu. Lalu, melihat aku yang tetap bersedih, ibu pun berkata, “ran,, ibu keluar dulu. Tenangkan pikiran mu..”kata ibu serak. Aku pun hanya menganggukkan kepala. “Ibu… maafkan anakmu ini yang hanya bisa membuat mu bersedih dan menitikkan air mata. Aku janji bu, kelak aku akan membuat mu bangga padaku..”gumamku pada diri sendiri.
Setelah itu, aku pun mencoba bangkit perlahan dari segala keterpurukan, kurangkai kembali semua asa dan mimpi ku yang sempat hancur karena kegagalan. Aku pun mengingat perkataan VINCE LOMBART, yang mengatakan bahwa “sangat sulit untuk tidak kecewa menerima kegagalan sebuah mimpi yang telah ada di depan mata. Tapi, inilah kehidupan”.
Hari-hari pun kulalui dengan sebuah senyuman. Nampaknya ibuku pun mulai lega melihat perubahan sikapku. “gitu dong ran.. jangan cengeng. Buktikan kalo kamu akan bangkit menjemput impianmu,”kata ibuku menyemangati. Aku pun tersenyum dan semakin termotivasi untuk bangkit. Ayah ku pun tak kalah senangnya melihat sikapku yang berubah drastis. “Ayah takut, kalo kamu di dalam kamar terus, kamu jadi punya ilmu kanuragan,” canda ayah ku saat aku asyik menonton acara televisi. “ayah… aku capek ngurung diri di kamar terus.. ih.. ayah jadi ngejek..” jawab ku dengan mimik muka agak ngambek. Ayah ku pun tersenyum kecut mendengarnya.
Lalu aku pun beranjak masuk ke dalam kamar. Aku mulai membuka diary ku dan menuliskannya dengan pena hitam. Tulisan itu berisi,
                                                                 Bangkalan, 20 juni 2009
                                                                 Di dalam kamar tercinta.
Aku sejatinya ingin menangis melihat apa yang kini menimpaku. Namun, aku tau ada orang yang lebih dalam rasa kecewanya daripada ku. Dialah ibu ku. Orang yang selalu mengerti perasaan anak gadisnya. Ibu yang selalu menitikkan air matanya untukku. Ibu.. maafkan aku yang selalu membuat mu bersedih. Trimakasih karena kau telah mampu menenangkan hati ku dan membakar lagi semangat di dadaku untuk kembali meraih mumpiku. Ibu… andai kau tau, hanya satu tujuan ku hidup di dunia ini.. aku hanya ingin menjadi anak yang berbakti pada mu, dan taat patuh pada perintah mu.. ibu.. durhaka kah aku, jika di telapak kaki mu tak ku temui surga itu ?
Begitulah sekelumit isi hatiku yang sengaja ku tuangkan dalam beberapa barisan aksara.  Setelah itu, aku pun merebahkan tubuh ku di atas kasur putih kamarku. dan tak lama aku pun terlelap dalam khayalan mimpi-mimpi ku.
Begitu aku beranjak bangun dari tempat tidur ku dan terbasit dalam ingatan ku, bahwa aku harus kembali menata hidup ku ke depan. “Ran…. Ayah dan ibu ada kabar bahagia untukkmu nak.. cepatlah keluar.” Sahut ayah ku dari luar kamar. “iyaaaa yah.. bentar. Aku masih mau ganti baju..” jawab ku dengan suara agak keras. Lalu aku pun segera beranjak keluar kamar. Aku pun jadi penasaran mendengar perkataan kedua orang tua ku. Ternyata kabar bahagia itu adalah aku di terima di UNIVERSITAS NEGERI MALANG jurusan ENGLISH LITERATURE.
“Selamat ya nak.. akhirnya kamu diterima kuliah di Malang,..’’ sahut ayah ku seraya memberi ucapan selamat. “iya sayang.. ibu bangga pada mu nak.. Kegagalan yang kemarin Allah swt. Telah membayarnya dengan keberhasilan mu menembus PTN jalur Ujian Tulis,,’’kata ibu ku bangga. Sejatinya ada kebahagiaan yang menggelayut di dada ku. Namun di kala itu juga ada kesedihan yang menghampiri ku. Tak lama lagi aku akan berpisah dengan kedua orang tua ku. Aku akan hidup mandiri untuk menimba ilmu di daerah yang belum pernah ku singgahi.
“Ya Allah.. terima kasih untuk semua yang t’lah Kau berikan pada hambamu ini…”ucap ku dalam hati sembari meneteskan air mata. Dan, setelah itu aku pun mulai mempersiapkan diri dan mental agar tidak shock ketika berada di kota batu itu.
Dan, tibalah waktunya untuk aku pergi. Saat itu ibu ku pun berderai air mata karena harus berjauhan dengan anak gadisnya. “Ran.. kamu hati-hati ya di sana.. jaga diri mu baik-baik.. jangan lupa belajar dan berdoa agar semuanya lancar sesuai dengan rencana..”kata ibu ku dengan suara haru sembari menitikan air mata ketika aku akan berangkat. “iya bu.. aku akan ikuti semua petunjuk ibu… doakan aku bu, agar kuliah ku segera selesai dan aku bisa kembali menemani ibu..”jawab ku dengan linangan air mata. Aku tahu betapa sedihnya ibu saat ini. Karena, kakak perempuan ku sudah tidak berkumpul di rumah semenjak dia menikah dengan seorang pria asal Blitar. Dalam hati ku, aku t’lah berjanji bahwa aku akan segera menuntaskan kuliah ku dan segera pulang ke rumah untuk menemani kesendirian ibu ku.
Dan, tibalah saatnya perkuliahan pun tiba. Hari-hari yang kujalani di kota batu, Malang menjadi aktifitas tersendiri ku untuk menghapus segala rinduku pada ayah dan bundaku. “Ran…akhir bulan ini kamu nggak pulang ke bangkalan ta ??’’ Tanya Karin, teman satu kosan ku saat jam kuliah selesai. “aku nggak tau rin.. karena, akhir-akhir ini aku sibuk banget ama tugas yang di berikan ama Dosen Risman”jawab ku dengan nada pasrah. “tapi ran.. masak iya kamu nggak kangen ama kedua orang tua mu..”kata Karin mengejar pembicaraan ku. “bukannya aku nggak kangen ama mereka rin,, tapi aku emang nggak bisa. I’m busy now. Please… I hope you understand what I mean..”jawab ku dengan logat bahasa inggris yang sok bule. “I know ran.. but, I think they’ll miss you so much..”jawab Karin dengan bahasa inggris yang tak kalah lancarnya dengan native speaker. “Let’s see later..”jawab ku pendek. Karin pun mengangkat kedua bahunya pertanda tak mengerti dengan jalan pikir ku.
Dan, ketika sampai di kamar kos, aku pun membuka album diary ku dan menuliskan bait-bait kata di atas kertas. Aku ingin mencurahkan kerinduanku yang sangat mendalam pada ibu ku tercinta. Inilah cuplikan kata-kata ku di atas diary ku :
                                                                            
                                                                             Malang, 25 Maret 2012
                                                                             Di dalam kamar yang hening.
     Ibu.. aku sangat merindukan mu. bu.. aku rindu saat-saat kita menghabiskan waktu bersama. Namun, aku harus memendam segala rasa yang ada Karena jarak t’lah memisahkan kita. Namun, aku tetap ingin melihat mu tersenyum bu.. tersenyum bangga dengan prestasi ku. Ingin rasanya aku obati kerinduan ini, namun aku seolah tak mampu melawan perintah dari dosen ku. Ibu… aku ingin suatu saat nanti kau bisa menangis bahagia melihat aku yang telah mampu meraih semua angan dan mimpi ku.
Tak lama setelah itu, aku mendapat kabar yang membuat semua tubuh ku remuk redam olehnya. “Ran.. cepetlah pulang ke bangkalan. Ibu mu di vonis kanker stadium 4. Cepetlah pulang nak.. ibu mu ingin segera bertemu dengan mu”. Itulah sms ayah ku yang membuat aku tak kuasa menahan air mata yang mengalir tanpa bisa ku bendung. Aku pun langsung mengontak Pak Risman, dosen sastra bahasa inggris ku agar aku bisa mem-pending tugas-tugas ku sementara. “Ok Lah ran.. tidak apa-apa. Untuk sementara kamu bisa cuti kuliah dan jangan khawatir saya akan tetap membantu mu sebisa mungkin” kata Pak Risman di sambungan telepon saat aku menelponnya. Aku pun lega mendengarnya.
Dan, aku pun segera menghubungi Karin, sahabat ku yang juga satu jurusan dengan ku. “Innalillahi… aku nggak nyangka ran.. ternyata ibu mu menderita penyakit separah itu. Kamu yang sabar ya…”kata Karin menguatkan. “Thanks ya Rin.. kamu emang sahabat terbaik aku..”jawab ku dengan suara yang aku tabah-tabahkan. Dan, saat itu juga aku memutuskan untuk pulang. Kami pun berpisah. Karin juga t’lah berjanji pada ku bahwa ketika dia pulang ke bangkalan, akhir semester ini akan menjenguk ibu ku di rumah ku.
Di perjalanan pulang, yang ada dalam pikiran ku hanyalah ibu dan ibu semata. Aku pun jadi penasaran dengan keadaannya saat ini. Tiba-tiba air mata ku mengalir entah mengapa.
Ketika aku menginjakkan kaki di rumah, aku pun tertegun tak berdaya melihat ibu ku berada di kursi roda. Air mata yang sedari tadi ku tahan agar tidak menetes di depan ibu ku tak bisa lagi ku bendung dan terurai membasahi pipi ku. “Ibuuuuuuuuuuuuu…..”kata ku setengah menjerit dan langsung menghambur memeluk ibu ku. “anak ku… ibu rindu pada mu nak..”jawab ibu ku di tengah hangat pelukannya pada ku.  “ibu… apa yang terjadi pada mu.. sampai kau begini..”Tanya ku cemas. “ibu tidak apa-apa nak.. kau tak perlu menghawatirkan ibu, ajal ibu sudah dekat. Sebaiknya kamu focus dengan kuliah mu..”jawab ibu ku menasihati seraya menenangkan aku. “ibu.. bagaimana aku bisa focus kuliah, kalo ibu sakit.. ibu nggak usah khawatir, aku di sini temenin ibu.. bu.. ajal seseorang bukan di tangan dokter, tapi di tangan Allah SWT, “ujar ku membesarkan hati ibu ku.
Saat itulah aku mulai merawat ibu ku. Menyuapinya, dan berada di sampingnya adalah aktifitas sehari-hari ku menemani ibu di sisa akhir hidupnya. “Ya Allah, jika Kau ingin memanggil ibu ku menghadap-Mu, maka perkenankan lah dia kembali dalam keadaan khusnul khotimah.. aminn” pintaku pada Sang Pemilik Alam Semesta.
Hingga pada akhirnya ibu ku menghembuskan nafas untuk yang terkahir kalinya, tangis ku pun langsung pecah melihat ibu telah tiada. Namun, ada sedikit kelegaan di hati ku, karena aku bisa memenuhi permintaan ibu ku ‘tuk menemaninya di sisa akhir hidupnya. “Ibu.. selamat jalan. Semoga Allah senantiasa menempatkan mu di tempat yang layak di sisi-Nya”kata ku seraya mencium kening ibuku sebelum di sucikan.
Aku pun mengantarkan ibu ku ke tempat peristirahatan yang terkahir. Air mata pun menetes tanpa henti mengalir membasahi pipi. Namun aku berusaha untuk tegar menghadapi ini semua, sesuai pesan almarhumah ibu untuk tidak menangis karena semua makhluk di dunia ini akan berpulang pada Sang Khalik.
Setelah ibu tiada, aku begitu merasa sangat kehilangannya. Namun, sebagai anak aku harus mengikhlaskan kepergian ibu. Mungkin Allah tengah memiliki rencana pada ku yang tak bisa ku tebak oleh nalar pikir ku. Dan ternyata, dugaan ku pun tak meleset. 3 tahun setelah kepergian ibu, aku di terima menjadi guru pengajar di sebuah tempat kursus ternama. Dan, aku juga di terima untuk mengikuti pelatihan pengajar selama 1 bulan di Amerika Serikat melalui tempat kursus itu. “Alhamdulillah nak… ini adalah hal yang sangat menggembirakan. Andai ibu mu masih ada tentu beliau akan sangat bahagia”sahut ayah ku dengan nada gembira. “yah… ibu sudah tenang di sana. Aku yakin ibu sangat bahagia mengetahui aku bisa ke luar negeri. Apalagi aku transite di Amsterdam selama 3 jam..”Jawab ku sembari teringat bayangan ibu di pelupuk mata ku. “iya nak.. Alhamdulillah…”jawab ayah ku.
Akhirnya aku pun berangkat ke Amerika Serikat untuk mengikuti pelatihan itu. Sampai di bandara, dan ketika akan berangkat, keluarga besar ku yang mengantar ku melambaikan tangannya dan tentu berdoa agar aku kembali dengan selamat. Tiba-tiba aku teringat akan ibu ku. “Bu.. seandainya engkau masih ada di sini, dan melihat ku terbang menjemput impian ku, betapa bahagianya diri mu. Bu.. ini adalah bayaran air mata kesedihan mu dulu ketika mengetahui aku gagal ke Belanda. Kali ini aku benar ke Belanda bu.. “Ucap ku dalam hati sembari membalas lambaian keluarga ku. “Terima kasih Ya Allah… untuk semua yang t;lah Kau beri pada ku,”kata ku mengucap syukur.
Kini, aku bisa membuktikan pada dunia bahwa aku bisa meraih mimpi dan membayar air mata ibu ku kala melihat aku sedih dengan kegagalan ku.


# SELESAI #