Sabtu, 22 Februari 2014

Untukmu Sahabatku...




Ketika seorang sahabat sejati bertanya kepada sahabatnya, “apakah aku pernah melakukan salah padamu?“.
Sahabatnya akan menjawab, “ya, tapi aku sudah melupakan kesalahanmu“.

Ketika seorang sahabat sejati berbalik bertanya kepada sahabatnya, “apakah aku pernah bersalah padamu?“.
Sahabatnya akan menjawab, “ya, tapi aku sudah lupa akan hal itu“.

Ketika seorang bertanya, “Apa yang telah kau lakukan untuk sahabatmu?“
Seorang sahabat akan menjawab, “Aku tidak tahu.” sebab seorang sahabat tidak pernah meminta imbalan dari apa yang telah di perbuatnya dengan tulus.

Ketika seorang sahabat sejati memarahi sahabatnya, dan sahabatnya bertanya, “mengapa kamu memarahiku?“
Sahabatnya akan menjawab, “demi kebaikanmu“.

Ketika seseorang bertanya, “apakah alasanmu menjadi sahabatnya?“
Ia akan menjawab, “tidak tahu“. Sebab sahabat yang sejati tidak pernah memanfaatkan, tidak pernah memandang kelemahan dan kelebihan.

Ketika kau jatuh, dia akan berusaha menopangkan tangannya supaya kau tidak tergeletak.
Ketika kau
bahagia, ia akan berada disisimu dan turut merasakan kebahagiaanmu.
Ketika kau berduka, ia akan berada disampingmu, meskipun ia tidak tahu bagaimana cara menghiburmu. Tetap mendengarkanmu, mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulutmu, meskipun kau hanya mengaduh dan meskipun ia tidak tahu bagaimana solusi masalahmu.
Ketika kau mengatakan cita – citamu, ia akan mendukung dan berdoa untukmu.
Ketika ia b
ahagia, kau juga akan berbahagia karenanya.
Ketika ia berduka, kau yang ada di sampingnya.
Hal yang paling membuat sahabatmu sedih adalah ketika kamu, sebagai seorang sahabat, membohonginya dengan alasan apapun. Sebab ia sangat percaya padamu. Hanya satu yang sahabatmu minta kepadamu : supaya ia menjadi bagian hidupmu.
Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya


Sahabatku..
Mungkin aku tak bisa selalu menemanimu, tapi aku akan selalu setia menyertaimu.
Mungkin aku tak selalu ada di 24 jam waktumu, tapi aku selalu ada disetiap helaan nafasmu.
Mungkin aku tak selalu disampingmu, tapi aku selalu ada saat kau butuhkan aku.
Mungkin aku bukan yang teristimewa dimatamu, tapi aku selalu menganggapmu yang teristimewa di mataku.
Mungkin aku tak bisa selalu bersamamu, tapi dari jauh aku selalu berdoa untuk kesuksesanmu.
Mungkin aku sering menghilang dari pandanganmu, tapi aku selalu berada dekat dihatimu.
Mungkin aku sering kasar atau marah kepadamu, tapi itu semua aku lakukan demi kebaikanmu.
Mungkin aku sering mengacuhkanmu, tapi aku lakukan karena aku sedang memahami kalau aku tak bisa menjadi yang terbaik dimatamu.
Mungkin aku tak selalu ada dihadapan matamu, tapi percayalah bahwa namamu selalu ada disetiap tetes darah dan denyut nadi yang mengalir dan berdetak ditubuhku.
Mungkin aku tidak bisa selalu melindungimu dari berbagai rintangan kehidupanmu, tapi aku selalu berusaha menjagamu sekuat dan semampuku sekalipun aku tak bisa bersamamu.
Mungkin aku tak bisa selalu menjadi tempatmu untuk berdiskusi dalam memecahkan masalahmu, tapi dari jauh aku selalu mendukung apapun keputusanmu.
Aku memang bukan kekasihmu yang akan memberikan banyak hal dalam keseharianmu, tapi aku bisa memberikan cinta tulus yang takkan terganti dan terkhianati dalam hidupmu.
Aku memang bukan embun yang bisa memberimu kesejukan, tapi aku bisa memberimu kehangatan seperti rembulan yang menerangi malam.
Aku memang bukan kedua orang tuamu yang selalu menjadi tempatmu untuk mengeluh dan mengadu, tapi aku selalu siap mendengarkan apapun curahan hatimu.

Itu Korsel Bro !



Timnas U-19 Indonesia merengkuh kemenangan atas Korea Selatan, di partai terakhir kualifikasi Piala Asia Grup G, di Stadion Gelora Bung Karno, malam ini. Bukan hanya mampu mencatat hasil sempurna dari laga ini, pasukan yang dipimpin pelatih Indra Sjafri ini membuat Korsel, yang selama ini dikenal sebagai raksasa Asia, kocar-kacir meladeni kecepatan dan teknik individu para pemain Indonesia.

Peluit tanda akhir dibunyikan mengunci angka 3-2 untuk Indonesia di papan skor stadion yang dipadati sekira 50 ribu suporter Merah-Putih itu. Kegembiraan para pemain dan ofisial meledak. Evan Dimas dkk, berlari-lari mengibar-ngibarkan bendera Merah-Putih, dan berpelukan. Seisi Stadion bergemuruh menyambut kemenangan manis Indonesia.

"Lihat semua gembira. Saya senang, senang sekali," kata pelatih Indra Sjafri seusai pertandingan.

Indonesia memang pantas bergelora di Bung Karno. Kemenangan diraih dengan penampilan yang sangat ciamik, padahal lawannya cadas. Korsel, juara bertahan, dan pemegang gelar 12 kali di ajang Piala Asia U-19. "Ini kebangkitan sepakbola kita.Semua Timnas kita harus bangkit," ucap Indra Sjafri penuh emosional.

Indra membuktikan ucapannya yang bombastis, beberapa hari setelah membawa timnya juara Piala AFF U-19. "Korsel tidak hebat, Indonesia yang hebat." Boleh jadi banyak orang tidak yakin dengan itu. Salah seorang mantan pemain Timnas era-60 an, kata salah satu teman Indra Sjafri, menyarankan supaya Indra tidak memaksa anak asuhnya untuk cari menang dari Korsel.

Tapi faktanya, Timnas bermain agresif. Enggak ada takut-takutnya dengan nama besar Korsel. Buat pelatih dari Sumatera Barat itu enggak ada cerita Indonesia main bertahan, strategi ciri tim inferior. Dan terbukti, Indonesia berjaya.

Ketika diwawancarai salah satu stasiun televisi swasta, beberapa saat usai pertandingan, ucapan itu meluncur lagi dari mulutnya, seolah menegaskan, apa yang ia yakini itu bukan omong kosong. Indonesia punya kemampuan, yang tak boleh diremehkan.


Setelah sukses ini, perjalanan memang masih panjang. Indonesia hanya baru lolos ke putaran final Piala Asia U-19. Evan Dimas dkk, masih harus berjuang di Myanmar 2014. Ibarat perjalanan, pasukan anak muda ini, baru di pintu gerbang. Masih banyak pekerjaan rumah dan kerja keras yang harus dilewati.

Indra Sjafri pun saat diwawancarai oleh wartawan ibukota beberapa waktu lalu, memang mengingatkan, tim ini belum maha hebat. Masih butuh pembenahan di sana-sini.

Tapi bayangkan, apa yang lebih indah, selain melihat 11 pemain Korsel dengan tatapan kosong, gontai berjalan ke luar lapangan Gelora Bung Karno, markas Merah-Putih. Itu Korsel bro! Bukan Malaysia, Vietnam, Thailand atau Laos dan Filipina yang duluan digebuk Evan Dimas cs. Makanya, rasanya tak berlebihan kalau kita berpesta sejenak.

"Sekarang kita nikmati dulu kemenangan ini. Setelah itu kita pasang target baru (di Piala Asia U-19)," kata Indra.

Terima kasih Indra Sjafri dan Timnas U-19.Kalian sudah menunjukkan bahwa anak muda Indonesia bisa bermain sepakbola dengan cara yang keren, jauh lebih keren dari pemain-pemain muda dari Negeri K-Pop itu. (tika)

CINTA DALAM PANDANGAN ISLAM



            CINTA dalam pandangan islam tentu sangat jauh berbeda dari yang telah kita lihat selama ini. Banyak di antara kita, yang tidak tahu bagaimana islam memperlakukan sebuah CINTA. Sejauh ini, kita hanya bisa melihat dan mengamati cinta sebagai sebuah nafsu birahi untuk meloloskan hasrat kita dalam bercinta. Padahal, dalam Al-Qur’an,  islam memperlakukan cinta begitu indah, seindah para kekasih ALLAH mereguk cinta.
            Dalam pandangan islam, cinta yang halal hanya bisa kita dapatkan dalam ikatan suci pernikahan. Namun kini, banyak pemuda-pemudi yang memanfaatkan jalan pintas untuk mewujudkan hasrat syetan mereka. Ini sungguh di luar tatanan islam. Dan, sungguh mengerikan, yang melakukan hal keji dan bejat seperti itu adalah mereka yang mengaku beragama islam. Sungguh ini adalah sebuah dosa besar !! mereka tahu agama, dan mengenal syariat, mengapa yang keji dan buruk juga masih dilakukan ?? inilah pertanyaan yang selalu terlintas di benak kita. Jawaban yang cukup masuk akal adalah karena mereka tidak di bekali dengan iman yang kuat dalam hati mereka, sehingga mereka dengan mudahnya melakukan hal yang dilarang oleh agama.
            Islam sama sekali tak melarang kita untuk bercinta. Karena cinta adalah hak kita dan merupakan karunia Allah azza wajallah. Namun, jika kita mampu untuk bersikap bijak, tentu tak kan terjerumus ke dalam perbuatan nista. Cinta yang patut kita agung-agungkan adalah cinta yang telah terpatri dalam ikatan suci pernikahan. Cinta yang halal, dan mendatangkan keberkahan bagi yang bercinta. Cinta yang telah berlandaskan agama, dan yang insyaallah akan terus terjaga sampai nyawa terpisah dengan raga. Inilah definisi cinta yang suci nan sejati. Cinta yang datang di waktu muda atau pada zaman sekarang adalah pacaran, maka itu tidak disebut dengan cinta, melainkan sebuah nafsu semata untuk memiliki orang yang kita cinta. Seharusnya, kita tidak boleh terlena begitu saja apabila kita mendengar ada orang yang mengatakan cintanya pada kita dan berkata : “Aku sangat mencintaimu. Aku ingin kau yang terakhir untukku. Percayalah padaku, bahwa aku akan setia padamu, dan takkan pernah ku khianati cintamu”. Itu adalah sebuah ucapan dan hanya berasal dari bibir saja. Bukan berasal dari lubuk hati yang paling dalam.
            Kini, kita bisa mengamati bahwa pada zaman era modern seperti sekarang, pacaran bukanlah hal yang tepat untuk mengatakan cinta pada seseorang yang kita puja. Sekarang remaja muslimah seolah berada dalam dilematis karena ingin menjaga kesuciannya di tengah fitnah jaman yang serba permisif. Namun, tak sedikit di antara mereka tetap berkomitmen menjaga aturan agama. Begitu dahsyatnya belaian sang cinta, justru cinta kita menimbulkan energi dan kekuatan untuk semakin dekat kepada Tuhan. Akhirnya tidak ada pilihan lain bagi kita, kecuali sebuah keputusan untuk menunggu sang arjuna hati, hanya di pelaminan.
            Oleh karena itu, marilah kita bermimpi meraih mimpi-mimpi indah dalam ikatan suci pernikahan. Tetapi ingat berangkat dari sebuah motivasi besar untuk membangun rumah tangga dengan penuh tanggung jawab. Untuk sebuah kesucian, untuk sebuah kedamaian, untuk cinta dalam ikatan sakral dan untuk sebuah masa depan yang diridhai Tuhan.
            Begitulah ulasan singkat tentang cinta dalam pandangan islam. Siapa tahu, setelah membaca renungan ini, kita bisa meraih idealitas cinta yang diridhai Ilahi.

∞ BOSSKU ITU SAHABATKU.. ∞



Rapat Anggota Tahunan yang telah diselenggarakan ternyata telah mampu melahirkan pemimpin baru di kepengurusan organisasi yang ku naungi. Semula, aku tak menyangka bahwa yang akan memerintahku dan menyuruhku melakukan semua tugas tugas organisasi itu adalah sahabatku, orang yang selama ini selalu berjasa dalam hidupku. Dia memang tak pernah mempertaruhkan nyawanya demi keselamatanku, tapi dia adalah orang pertama yang tahu akan keluh kesahku selama masalah menimapku satu per satu dulu. Dialah sosok yang setia tanpa pernah lelah dan letih menghiburku, walau sejatinya aku tahu dia begitu kebingungan menyelesaikan masalahku yang terbilang rumit dan memiliki konsekuensi tinggi. Dan tak main-main kuliahku sempat jadi taruhannya, hingga pada puncaknya nilai IP ku turun lumayan walau tak bisa kubilang parah. Tak hanya itu, dialah orang yang selalu menilai aku dari sisi yang berbeda. Jujur aku katakan, selama aku kuliah dan menuntut ilmu hampir 2 tahun lamanya di kota Jember, aku belum pernah sekalipun menemukan seorang teman yang begitu peduli pada temannya dan menilai orang dari sisi yang berbeda. Aku pikir semua temanku yang ada di kota ini menilai aku hanya karena disaat aku ada diatas, tapi justru meninggalkan aku saat aku dibawah. Jujur, aku nggak butuh orang yang seperti itu. Lebih baik aku hanya memiliki satu teman tapi dia mau mengerti aku dan mau menerima aku apa adanya, bukan karena ada apanya. Dan, selama ini itulah penilaian aku kepada hampir semua teman-temanku. Namun, ternyata penilaian itu salah. Jauh sebelum Rapat Anggota Tahunan itu, aku berusaha dengan sangat susah payah menghabiskan hampir seluruh waktu libur akhir tahunku hanya di depan laptop demi membuat sebuah kado yang berkesan di hari ulang tahunnya.  
            Tak henti-hentinya aku berusaha memberikan sesuatu yang bisa meninggalkan kesan mendalam hingga akhir hayatnya.  Jujur, setiap kali sahabat-sahabatku berulang tahun, aku tak pernah memberi mereka kaos, topi, atau barang sejenisnya karena bagiku, mereka bisa membelinya dengan hasil jerih payah mereka sendiri. Aku hanya ingin memberikan sesuatu yang bisa mereka kenang seumur hidup walau pada akhirnya takkan lagi bertemu dengan sang pemberi kado karena telah terpisah jarak dan waktu. Akhirnya, aku pun berniat akan memberikannya tepat dihari ulang tahunnya yang ke-20. Tapi ternyata, takdir berkata lain. Aku sedikit kecewa karena aku tak bisa memberikannya secara langsung, oleh karena itu sebagai gantinya aku pun memberikannya secara dua kali selang beberapa hari setelah ulang tahunnya dan pas sebelum aku meninggalkannya sementara pulang ke kampung halamanku tercinta. Jika dilihat dari harga, kedua barang itu memang terbilang cukup murah. Aku yakin kalau dia bisa membelinya. Tapi, lewat tulisan ini aku hanya ingin bilang sama dia, “sahabatku,, jauh dari lubuk hatiku hanya permohonan maaf yang tulus yang bisa aku haturkan padamu. Maaf karena aku tak bisa penuhi janjiku untuk memberikan ini padamu tepat dihari ulang tahunmu, walau aku tahu itu janjiku hanya pada-Nya bukan padamu. Tapi bagiku, itu juga sebuah janji dan aku diliputi rasa bersalah karena aku tak bisa penuhi janjiku. Walau pada akhirnya aku berhasil mengganti janjiku dan kaupun tampak senang, namun tetap saja rasa bersalah itu ada padaku. Sahabatku.. kau lebih dari apapun yang ada. Aku tahu betapa besarnya pengorbananmu yang begitu peduli padaku saat tak ada satupun orang yang mau peduli padaku. Aku tak menyangka kalau kamu berbeda dari lainnya. Semoga aku tak salah menilai mu sahabat…”
            Dan kini, tak lain dan tak bukan dia adalah boss sekaligus sahabatku. Aku begitu menikmati peran baru ini dalam lakon sandiwara hidup yang telah aku jalani beberapa hari. Walau hanya masih singkat, namun jujur aku begitu menikmati posisi ini. Aku tidak tahu mengapa, padahal aku telah berada di posisi ini sejak setahun sebelumnya. Tak sedikit yang bertanya padaku mengapa aku mau berada di posisi ini. Tidakkah aku merasa bosan, ataupun penat dengan segala kegiatan yang begitu membosankan mengingat tugasku tak jauh berbeda dari tahun sebelumnya. Banyak dari mereka yang justru kecewa dengan sikapku yang hanya mengiyakan saja amanah yang diberikannya kepadaku.  Tapi, sebuah ungkapan jujur dari dalam lubuk hati, aku hanya ingin mencurahkan semua yang berkecamuk dalam pikiranku yang bercampur baur menjadi satu. Aku sadar dengan posisiku sekarang. Jika banyak orang yang bertanya padaku apakah aku menikmatinya atau tidak, maka aku akan jawab aku sangat menikmatinya. Jika ada yang bertanya padaku apakah aku tidak jenuh dengan segala aktivitas organisasi yang kulakoni nyaris sama dengan sebelumnya, jujur aku jawab aku tidak pernah jenuh. Disini, bukan karena dia bossku semata aku mengiyakan saja amanah itu. Aku pernah bertanya pada boss ku, “boss, kenapa kau tetap memberikan aku tanggung jawab yang sama ? tidakkah kau akan merasa bahwa kau akan dinilai sebagai pemimpin yang tidak bisa merotasi anak buahmu ?”. Dan, jawaban boss ku, “Aku lebih tahu kemampuanmu dan professionalitas mu dan aku yakin kau lebih tahu menangani masalah ini daripada harus kulimpahkan ke yang lain”.
            Saat itulah aku diam tak berkutik. Selang beberapa detik lamanya aku merenungi apa kata dia. Hingga akhirnya aku menemukan sebuah jawaban yang begitu sangat indah dan lugas. Aku yakin, dia lebih tahu kemampuanku daripada diriku. Karena menurutku, seseorang tidak bisa menilai dirinya sendiri mampu atau tidak mengemban suatu amanah. Hanya orang lainlah yang tau apakah diri kita mampu atau tidak mengembannya. Ini bukan soal jabatan, atau ingin mencari nama besar. Karena dari dulu, dalam setiap event yang melibatkan ku, aku tidak pernah mau menjadi seorang pemimpin. Bukan karena aku tidak mampu atau tidak siap, karena menurutku aku belum bisa memimpin diriku sendiri dengan baik, malah aku memimpin orang lain yang watak dan kepribadiannya pastilah berbeda. Jadi, lebih baik aku menjadi bawahan dalam arti pikiranku bisa dipakai untuk membantu semua lebih baik. Kalau bicara soal totalitas, jujur aku bukan orang yang suka mencampur adukkan masalah pribadi dengan pekerjaan. Bagiku, saat aku bekerja di organisasi, sang boss pasti memintaku untuk total dan tidak main-main dengan tanggung jawabku. Dan, aku akan berusaha untuk total demi sebuah professionalitas.
            Bossku, di organisasi aku akan menghormatimu sebagai atasanku bukan sebagai sahabatku. Aku hanya ingin menempatkan diri pada tempat yang sebenarnya. Di organisasi, aku akan berjanji untuk bersikap netral dan total dalam mengemban kepercayaan yang telah kau berikan kepadaku. Aku tidak mengeluh dengan posisiku, karena aku tahu kau telah memutuskan yang terbaik buatku. Aku tidak akan marah apabila nanti kau akan memarahiku atau mengacuhkanku karena aku tahu saat itu mungkin aku telah mengecewakanmu dan aku tak berhasil melakukan tugasku. Silahkan kau marahi aku, silahkan kau acuhkanku karena dengan begitu aku bisa belajar untuk menjadi yang lebih baik. Bossku, disini aku masih buuth bimbinganmu, disini aku masih mau meneladani kegigihanmu dan aku tahu kau dipih karena kau yang terbaik dari yang terbaik.
            Bossku, kau sahabatku. Kau adalah orang pertama yang akan aku beritahu apapun mengenai aku, dan aku sadar ketegasan ucapanmu, omelanmu, atau cerewetmu adalah bukti bahwa kau peduli padaku. Terima kasih karena telah mau menjadi sahabatku, terima kasih karena telah menemaniku di setiap detik hidup dan derap langkahku. Terima kasih karena telah menjadi boss yang baik bagiku, dan aku menyadari perubahan itu adalam diriku semenjak kehadiranmu. Semoga Allah selalu memberikan yang terbaik buatmu dan semoga Allah akan mempertemukanmu dengan ku suatu saat nanti saat kita telah sama-sama menggapai mimpi. Terima Kasih Bossku, kau memang boss sekaligus sahabat yang baik buatku. (dudu tika)