Selasa, 04 Maret 2014

“AKU INGIN SEPERTI MEREKA”

Aku ingin seperti mereka yang tidak pernah merasakan sakitnya anggota tubuh atau persendian yang bermasalah karena kecelakaan fisik. Aku ingin seperti mereka yang bisa berjalan tanpa meringis kesakitan. Aku ingin seperti mereka yang mampu melakukan semua aktivitas tanpa bantuan dan pertolongan. Aku ingin seperti mereka yang bisa tersenyum menyongsong hari berganti. Aku ingin seperti mereka yang bisa melompat kegirangan meluapkan segala ekspresi kegembiraan. Aku ingin seperti mereka yang bisa berlari menikmati masa muda dengan penuh keceriaan. Tapi bagaimana dengan aku ?? Aku yang hanya bisa menunggu tanpa kepastian kapan kembali bisa menyongsong hari dengan senyuman. Aku yang nyaris dipapah karena kondisi fisik yang tak lagi prima. Aku ingin menangis dan menumpahkan segala emosi yang berkecamuk dalam hati. Namun aku tak tahu pada siapa pundak dan bahu ini aku sandarkan, karena saat ini aku tak lagi memiliki sandaran yang akan selalu mendengarkan semua jeritan hatiku yang meradang.
            Aku ingin kembali seperti dulu, merasakan indahnya hidup yang sekarang hanya bisa kulihat putih dan abu-abu. Tak ada lagi merah, jingga, dan putih dalam hidupku. Semua kelabu dan nyaris tak ada warna dengan kondisiku yang berubah drastis ini. Saat ini, tak ada lagi senyuman, tak ada lagi keceriaan, bahkan luapan kegembiraan. Yang ada hanyalah rintihan rasa sakit yang terus berkecamuk dalam batin yang aku sendiri tidak tahu kapan semua ini akan berakhir. Langkah kakipun kini tak lagi bisa seperti dulu, bahkan untuk berdiri saja susahnya bukan main. Tapi, aku tidak mau kalah dengan iblis. Aku tidak mau iblis justru semakin tertawa melihat aku yang tak lagi punya energy untuk bangkit dan berdiri. Aku sadar, jalan hidup ini masih panjang. Masih akan ada “kejutan-kejutan” dari Tuhan yang pastinya akan mengubah skenario kehidupan.
            Saat ini, jauh di dalam lubuk hati rasa sakit ini aku tahan dan aku berusaha untuk tidak kembali menangis dan terpuruk dengan kondisiku. Aku sadar saat ini, tak ada satupun keluarga besarku yang tahu masalah yang sebenarnya menimpaku. Aku tidak mau mereka khawatir dengan keadaanku. Aku tidak mau mereka mencemaskan kondisiku yang nyaris tak sanggup lagi berjalan dengan sempurna. Tapi, aku tak mau memberitahu mereka. Aku tidak mau menambah keruh permasalahan yang ada. Biarlah saat ini hingga tiba waktunya nanti, aku yang menanggung semua sakit ini sendiri. Biarlah aku yang merasakan betapa menderitanya hidup tanpa didampingi kedua orang tua tercinta. Biarlah mereka tahu aku dalam keadaan baik-baik saja. Biarlah mereka tahu kesibukan dan kepadatan jadwal kuliahku yang semakin menyita waktuku untuk istirahat. Dan lagi, aku tidak mau membagi ini semua kepada semua teman-temanku. Aku tidak mau mereka mengasihaniku. Biarlah aku berjalan dengan sekuat dan semampuku. Yang sakit adalah kaki kananku, bukan seluruh anggota tubuhku. Jadi, aku masih bisa beraktivitas dengan anggota tubuhku yang lain. Yang sakit itu kaki kananku, bukan otakku. Jadi, aku masih bisa berpikir jernih dalam memutuskan sesuatu.
            Hari ini, kembali lagi impian itu pun terlintas dalam benakku. Sebuah mimpi yang teramat aku nanti kedatangannya. Aku ingin bisa berjalan seperti dulu lagi, aku ingin kembali tertawa dan meluapkan kegembiraan layaknya orang normal. Namun tampaknya, aku harus mengubur dahulu impian itu hingga tiba waktunya nanti. Karena hingga detik ini, rasa sakit ini masih menghinggapi hati dan entah kapan semua akan berakhir. Sekarang, aku hanya ingin menikmati saja skenario Tuhan. Aku hanya ingin tertawa lepas seolah tanpa beban. Aku hanya ingin merasa aku dalam kondisi baik-baik saja, walau terkadang batinku meringis kesakitan. Aku tak boleh selalu larut dalam kegundahan hati yang tak berhak untuk kunikmati. Aku yakin dengan semua rencana yang Tuhan berikan kepadaku.       
            Aristoteles berkata, “nikmatilah hidup ini walau bagaimanapun kondisimu. Yakinlah, ufuk pagi masih menanti senyuman manismu”. Tak hanya itu, pepatah mengatakan, “tersenyumlah sekalipun kau sedang menangis”. Saat ini, mungkin tubuhku yang sakit, tapi tidak dengan jiwa dan hatiku. Saat ini, aku berusaha kembali tersenyum dan menegakkan kepala yang sempat tertunduk karena ujian berat yang sempat menghancurkan mentalku. Jika aku terus bersedih, itu tandanya aku kalah dalam perang. Tidak !!!!!! Aku tidak mau jadi manusia pengecut yang tidak mau menerima keputusan yang telah ditetapkan oleh Sang Pemilik Kehidupan. Aku harus bangkit dan berdiri. Separah apapun kondisiku, jangan sampai orang mengira aku tenggelam dalam jurang yang terdalam. Aku memang ingin seperti mereka yang bisa merasakan setiap detik kebahagiaan dengan anggota tubuh yang sempurna tanpa ada kecacatan. Tapi, aku sadar tak semua manusia itu memiliki kesempurnaan. Kekurangan itu akan terasa lengkap jika kita mau ikhlas dan mensyukurinya sebagai anugerah terinda dari-Nya. Aku tidak akan malu dengan kondisiku. Sejelek apapun orang memandangku saat ini, aku tak mau lagi menggubrisnya dengan tanggapan ini dan itu. Aku yakin, ini adalah cara terbaik dari-Nya untuk membimbingku demi meraih ridho-Nya. Aku pun yakin, ini akan jadi pelajaran terbaik buatku untuk tidak lagi teledor dan lebih berhati-hati dalam melakukan sesuatu.
Karena, kita tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya. Aku yakin akan semua rencana-Nya, dan aku yakin semua ini akan berakhir indah pada waktunya..  
Ya Allah Ya Rabb.. Dikeheningan malam aku bermunajat kepada-Mu, berharap semua ini akan segera berakhir dengan senyuman indah. Aku tak tahu kapan aku bisa seperti mereka, merasakan hangatnya dunia dan lembutnya mentari menyapa jiwa. Aku tak tahu kapan aku bisa berjalan, berlari, dan melompat merasakan luapan kegembiraan yang entah kapan akan kembali Engkau berikan. Ya Allah… Di sepertiga malam aku menangis dalam sujudku memohon segala pintu taubat-Mu untuk hamba-Mu yang masih bergelimang dosa. Ya Allah.. Jangan sampai ujian ini justru membuat aku semakin menjauhi-Mu dan membuat aku lupa pada tujuan utama dalam hidupku. Ya Allah.. Engkaulah tempat aku mengadu segala keluh kesahku. Engkaulah tempatku untuk berserah diri memohon ampunan dan syafaat-Mu. Ya Allah… aku ingin berhuznudhan kepada-Mu, bahwa apa yang hari ini terjadi semua adalah kehendak-Mu.. Tabahkan hatiku menghadapi semua ujian-Mu Ya Rabb..   Amin….

Dan, demikianlah semua harus terjadi karena memang harus terjadi. Hidup ini terus berlanjut. Kita semua pun pernah merasakan yang namanya kecewa, putus asa, bahkan terluka.  Kita semua juga pernah merasakan cinta yang membawa kita ke tempat tertinggi. Kita lalu merasakan yang namanya terjatuh karena kesalahan kita sendiri. Kita tidak mati, tapi lukanya membuat kita tidak bisa berjalan seperti dulu lagi.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar