Aku ingin seperti mereka yang tidak pernah merasakan
sakitnya anggota tubuh atau persendian yang bermasalah karena kecelakaan fisik.
Aku ingin seperti mereka yang bisa berjalan tanpa meringis kesakitan. Aku ingin
seperti mereka yang mampu melakukan semua aktivitas tanpa bantuan dan
pertolongan. Aku ingin seperti mereka yang bisa tersenyum menyongsong hari
berganti. Aku ingin seperti mereka yang bisa melompat kegirangan meluapkan
segala ekspresi kegembiraan. Aku ingin seperti mereka yang bisa berlari
menikmati masa muda dengan penuh keceriaan. Tapi bagaimana dengan aku ?? Aku
yang hanya bisa menunggu tanpa kepastian kapan kembali bisa menyongsong hari
dengan senyuman. Aku yang nyaris dipapah karena kondisi fisik yang tak lagi
prima. Aku ingin menangis dan menumpahkan segala emosi yang berkecamuk dalam
hati. Namun aku tak tahu pada siapa pundak dan bahu ini aku sandarkan, karena
saat ini aku tak lagi memiliki sandaran yang akan selalu mendengarkan semua
jeritan hatiku yang meradang.
Aku
ingin kembali seperti dulu, merasakan indahnya hidup yang sekarang hanya bisa
kulihat putih dan abu-abu. Tak ada lagi merah, jingga, dan putih dalam hidupku.
Semua kelabu dan nyaris tak ada warna dengan kondisiku yang berubah drastis
ini. Saat ini, tak ada lagi senyuman, tak ada lagi keceriaan, bahkan luapan
kegembiraan. Yang ada hanyalah rintihan rasa sakit yang terus berkecamuk dalam
batin yang aku sendiri tidak tahu kapan semua ini akan berakhir. Langkah
kakipun kini tak lagi bisa seperti dulu, bahkan untuk berdiri saja susahnya
bukan main. Tapi, aku tidak mau kalah dengan iblis. Aku tidak mau iblis justru
semakin tertawa melihat aku yang tak lagi punya energy untuk bangkit dan
berdiri. Aku sadar, jalan hidup ini masih panjang. Masih akan ada “kejutan-kejutan”
dari Tuhan yang pastinya akan mengubah skenario kehidupan.
Saat
ini, jauh di dalam lubuk hati rasa sakit ini aku tahan dan aku berusaha untuk
tidak kembali menangis dan terpuruk dengan kondisiku. Aku sadar saat ini, tak
ada satupun keluarga besarku yang tahu masalah yang sebenarnya menimpaku. Aku
tidak mau mereka khawatir dengan keadaanku. Aku tidak mau mereka mencemaskan
kondisiku yang nyaris tak sanggup lagi berjalan dengan sempurna. Tapi, aku tak
mau memberitahu mereka. Aku tidak mau menambah keruh permasalahan yang ada.
Biarlah saat ini hingga tiba waktunya nanti, aku yang menanggung semua sakit
ini sendiri. Biarlah aku yang merasakan betapa menderitanya hidup tanpa
didampingi kedua orang tua tercinta. Biarlah mereka tahu aku dalam keadaan
baik-baik saja. Biarlah mereka tahu kesibukan dan kepadatan jadwal kuliahku
yang semakin menyita waktuku untuk istirahat. Dan lagi, aku tidak mau membagi
ini semua kepada semua teman-temanku. Aku tidak mau mereka mengasihaniku.
Biarlah aku berjalan dengan sekuat dan semampuku. Yang sakit adalah kaki
kananku, bukan seluruh anggota tubuhku. Jadi, aku masih bisa beraktivitas dengan
anggota tubuhku yang lain. Yang sakit itu kaki kananku, bukan otakku. Jadi, aku
masih bisa berpikir jernih dalam memutuskan sesuatu.
Hari
ini, kembali lagi impian itu pun terlintas dalam benakku. Sebuah mimpi yang
teramat aku nanti kedatangannya. Aku ingin bisa berjalan seperti dulu lagi, aku
ingin kembali tertawa dan meluapkan kegembiraan layaknya orang normal. Namun
tampaknya, aku harus mengubur dahulu impian itu hingga tiba waktunya nanti.
Karena hingga detik ini, rasa sakit ini masih menghinggapi hati dan entah kapan
semua akan berakhir. Sekarang, aku hanya ingin menikmati saja skenario Tuhan.
Aku hanya ingin tertawa lepas seolah tanpa beban. Aku hanya ingin merasa aku
dalam kondisi baik-baik saja, walau terkadang batinku meringis kesakitan. Aku
tak boleh selalu larut dalam kegundahan hati yang tak berhak untuk kunikmati.
Aku yakin dengan semua rencana yang Tuhan berikan kepadaku.
Aristoteles
berkata, “nikmatilah hidup ini walau bagaimanapun kondisimu. Yakinlah, ufuk
pagi masih menanti senyuman manismu”. Tak hanya itu, pepatah mengatakan,
“tersenyumlah sekalipun kau sedang menangis”. Saat ini, mungkin tubuhku yang
sakit, tapi tidak dengan jiwa dan hatiku. Saat ini, aku berusaha kembali
tersenyum dan menegakkan kepala yang sempat tertunduk karena ujian berat yang
sempat menghancurkan mentalku. Jika aku terus bersedih, itu tandanya aku kalah
dalam perang. Tidak !!!!!! Aku tidak mau jadi manusia pengecut yang tidak mau
menerima keputusan yang telah ditetapkan oleh Sang Pemilik Kehidupan. Aku harus
bangkit dan berdiri. Separah apapun kondisiku, jangan sampai orang mengira aku
tenggelam dalam jurang yang terdalam. Aku memang ingin seperti mereka yang bisa
merasakan setiap detik kebahagiaan dengan anggota tubuh yang sempurna tanpa ada
kecacatan. Tapi, aku sadar tak semua manusia itu memiliki kesempurnaan.
Kekurangan itu akan terasa lengkap jika kita mau ikhlas dan mensyukurinya sebagai
anugerah terinda dari-Nya. Aku tidak akan malu dengan kondisiku. Sejelek apapun
orang memandangku saat ini, aku tak mau lagi menggubrisnya dengan tanggapan ini
dan itu. Aku yakin, ini adalah cara terbaik dari-Nya untuk membimbingku demi
meraih ridho-Nya. Aku pun yakin, ini akan jadi pelajaran terbaik buatku untuk
tidak lagi teledor dan lebih berhati-hati dalam melakukan sesuatu.
Karena, kita tidak tahu apa
yang akan terjadi nantinya. Aku yakin akan semua rencana-Nya, dan aku yakin
semua ini akan berakhir indah pada waktunya..
Ya Allah Ya Rabb.. Dikeheningan malam aku bermunajat kepada-Mu, berharap
semua ini akan segera berakhir dengan senyuman indah. Aku tak tahu kapan aku
bisa seperti mereka, merasakan hangatnya dunia dan lembutnya mentari menyapa
jiwa. Aku tak tahu kapan aku bisa berjalan, berlari, dan melompat merasakan
luapan kegembiraan yang entah kapan akan kembali Engkau berikan. Ya Allah… Di
sepertiga malam aku menangis dalam sujudku memohon segala pintu taubat-Mu untuk
hamba-Mu yang masih bergelimang dosa. Ya Allah.. Jangan sampai ujian ini justru
membuat aku semakin menjauhi-Mu dan membuat aku lupa pada tujuan utama dalam
hidupku. Ya Allah.. Engkaulah tempat aku mengadu segala keluh kesahku.
Engkaulah tempatku untuk berserah diri memohon ampunan dan syafaat-Mu. Ya
Allah… aku ingin berhuznudhan kepada-Mu, bahwa apa yang hari ini terjadi semua
adalah kehendak-Mu.. Tabahkan hatiku menghadapi semua ujian-Mu Ya Rabb.. Amin….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar