Tahun 2014
pastinya memiliki cerita yang berbeda dari tahun sebelumnya. Karena menurutku
setiap tahunnya pasti akan meninggalkan kesan dan kenangan mendalam yang takkan
mudah untuk dilupakan. Namun, aku tak menyangka bahwa ditanggal “14”, tanggal
yang nyaris setiap tahunnya berusaha kulupakan karena kelamnya kisah masa lalu
yang tak ingin lagi terulang, tiba-tiba tanggal tersebut memberikan aku banyak
sekali pelajaran tentang arti dari sebuah kekompakan, persaudaraan, dan
persahabatan. Terharu. Itulah kata pertama yang meluncur dari mulutku begitu
tahu bahwa menjaga tali persaudaraan itu bisa kita ungkapkan dengan apa saja.
Dan, itu terbukti dengan “surprise”
party kecil-kecilan untuk kawan dan sahabatku yang membuat aku harus ikut
terkena getahnya. Walau hanya party kecil-kecilan “birthday”, buatku itu sangat
berharga. Karena dari sinilah, kita membangun kekompakan dan solidaritas kita
guna tetap menjaga utuhnya persaudaraan dan persahabatan.
Sulit rasanya bagiku melukiskan
betapa bahagianya hari itu. Padahal, tidak pernah terlintas dalam benakku,
bahwa akan ada kisah yang teramat sayang untuk dilupakan di tanggal yang nyaris
tak pernah aku anggap dalam hidupku. Tapi, kejadian tersebut membuat aku justru
ingin selalu mengulang cerita yang sama di tanggal yang sama pula. Dan,
puncaknya terjadi ketika aku “lunch”
hanya “berdua” dengan
sahabatku di sebuah warung makan daerah kampus yang membuat aku makin jatuh
cinta dengan tanggal itu. Rasanya, ketika aku bisa menghabiskan waktu walau
hanya berdua saja dengan sahabatku yang berulang tahun dua hari sebelumnya,
tapi kena semprot di tanggal tersebut, membuat cerita di ditanggal tersebut
semakin lengkap. Makan siang yang hanya berdua sembari memberi seuntai kado
kecil dan murah, membuat aku merasa sahabat itu adalah orang yang tidak akan
pernah meninggalkan kita disaat tak ada satupun orang yang peduli dengan kita.
14 Januari meninggalkan kesan yang
cukup mendalam bagi hidupku. Mereka adalah saksi bisu ketika aku mulai jatuh
hati dengan tanggal ini. Alasannya simple dan lugas, karena mereka mampu
membuat aku tertawa dan ceria, saat itulah aku berpikir betapa berharganya
mereka dalam hidupku. Sungguh, aku tidak menyangka semua akan berakhir dengan
cerita sempurna yang membuat aku terharu sekaligus bangga. Bangga karena aku
bisa ikut campur dalam “event” gila
dan spektakuler ini. Spekatakuler karena baik pemeran maupun sang pengisi acara
harus terkena getahnya. Gila karena ini kocak dan dramatis.
Namun, hal ini justru mampu membuat
aku terharu karena hari itu aku ajak sahabatku untuk pergi hanya berdua
menyusuri damainya kota Jember sembari mencari tempat untuk berteduh dan
mengisi tenaga di tengah ramainya pusat kota. Akhirnya, disudut kota aku pun
menemukan tempat yang cocok buatku dan dia untuk makan siang berdua dan inilah
kali pertama aku menitikkan air mataku di depan umum. Karena, sejak dulu aku
tidak pernah mau mengeluarkan air mataku di depan orang. Bukan bermaksud gengsi
atau sok jual mahal, tapi dari dulu aku selalu berprinsip aku bukan orang yang
mau membagi kesedihan dan air mataku dengan orang lain. Aku selalu berpikir
biarlah aku sendiri yang tahu betapa sedih dan lukanya hatiku. Biarlah aku
sendiri yang merasakan betapa remuk dan hancurnya jiwaku saat itu. Tapi, ketika
sekuat tenaga aku berusaha untuk menahannya untuk tidak jatuh membasahi kelopak
mata, setetes air mata bening pun jatuh tanpa bisa kubendung lagi. Apalagi,
ketika melihat dia menitikkan air mata, aku semakin tak kuasa menahan tetesan
air mata ini.
14 Januari ku, kau pemilik semua
kenangan indah dan masa-masa ku yang teristimewa. Kau juga pemilik semua
balutan kisah kelamku di masa lalu. Kau telah mampu meluluhkan kerasnya dinding
hatiku saat aku nyaris tak mau mengingat mu dan ukiran kisahnya pun kau balut
mesra sehingga membuat aku jatuh hati kepadamu. Aku tak tahu mengapa kini aku
sangat mengingat memori manis itu, padahal sedari dulu aku tak pernah
menganggap kau ada dalam kalender kehidupanku. Mungkin, dengan begitu pahitnya
masa lalu itu, justru membuat aku cinta mati padamu. Bahkan, entah mengapa
perlahan tapi pasti aku mulai melupakan semua yang pernah terjadi dan sempat
menggoreskan luka di hati.
Kawanku.. “happy birthday ke-20”.
Semoga Allah selalu memberikan yang terbaik untukmu dan semoga apapun yang kau
impikan bisa tercapai di usiamu yang kini beranjak dewasa. Tak lupa pula,
segala doa kupanjatkan kepada-Nya semoga Allah senantiasa melindungimu dimanapun
kau berada. Dan, untuk sahabatku.. “happy birthday ke-20”. Semoga Allah akan
tetap memberikan rahmat-Nya kepadamu, semua syafaat-Nya dan mengistikomahkanmu
di jalan-Nya. Serta, semoga semuanya berjalan sesuai dengan yang kau harapkan.
Selain itu, seberkas doa ku lantunkan kepada-Nya, semoga Allah akan selalu
meridhoi setiap derap langkahmu dijalan-Nya dan dari jauh aku berdoa semoga kau
mendapatkan yang terbaik dari yang terbaik.
Untuk kawanku dan sahabatku… Terima
kasih karena kisah kalian membuat aku sadar dan mengerti betapa mahalnya semua
kisah yang terjadi kemarin dan hari ini. Kini aku sadar, cerita indah itu takkan
pernah terlukiskan jika tak ada yang namanya “kekompakan dan persahabatan”.
Walau aku harus kena getahnya, walau aku juga basah terkena cipratan airnya,
tapi itu semua berakhir dengan indah dan menyenangkan. Sumpah, ini adalah “14”
pertama yang mengesankan dan kenangannya masih belum hilang dari ingatan. Kawan
dan sahabatku.. Kalianlah dua sosok yang mampu membuat aku tertawa dan
berbahagia di tanggal “14”. Jujur, kalian adalah dua orang pertama yang mampu
menorehkan kisah manis setelah sekian lama aku mengubur semua cerita di tanggal
kelabu itu. Terima kasih karena kalian telah menyentilku bahwa setiap hari akan
memiliki cerita yang berbeda dan tak boleh dilewatkan begitu saja. Terima
kasih, karena dari kalian aku belajar betapa indahnya hidup damai dan
berdampingan tanpa ada perselisihan. Terima kasih karena kalian telah mengajari
aku bahwa menyatukan banyak perbedaan bisa kita lakukan ketika hati telah
kompak dan bersatu dalam tali pertemanan.
Kawan dan sahabatku… Maaf jika hanya
ini yang bisa aku berikan kepada kalian. Karena aku tak tahu apa yang bisa aku
beri setelah begitu banyak yang kalian berikan padaku. Aku tak butuh emas
permata, intan berlian ataupun tumpukan uang rupiah. Hanya satu yang kupinta
dari kalian, tetaplah jadi teman terbaikku dan tetaplah jadi sahabat yang
selalu ada buatku. Karena kalian, aku sadar bahwa “kekompakan” itu mahal
harganya. Terima kasih kawan dan sahabatku.. Semoga Allah senantiasa merahmati
kalian. Dari jauh aku berdoa untuk kesuksesan kalian berdua. Selamat berjuang.
Sampai berjumpa kembali di tangga kesuksesan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar