Selasa, 04 Maret 2014

14 JANUARI

Tahun 2014 pastinya memiliki cerita yang berbeda dari tahun sebelumnya. Karena menurutku setiap tahunnya pasti akan meninggalkan kesan dan kenangan mendalam yang takkan mudah untuk dilupakan. Namun, aku tak menyangka bahwa ditanggal “14”, tanggal yang nyaris setiap tahunnya berusaha kulupakan karena kelamnya kisah masa lalu yang tak ingin lagi terulang, tiba-tiba tanggal tersebut memberikan aku banyak sekali pelajaran tentang arti dari sebuah kekompakan, persaudaraan, dan persahabatan. Terharu. Itulah kata pertama yang meluncur dari mulutku begitu tahu bahwa menjaga tali persaudaraan itu bisa kita ungkapkan dengan apa saja. Dan, itu terbukti dengan “surprise” party kecil-kecilan untuk kawan dan sahabatku yang membuat aku harus ikut terkena getahnya. Walau hanya party kecil-kecilan “birthday”, buatku itu sangat berharga. Karena dari sinilah, kita membangun kekompakan dan solidaritas kita guna tetap menjaga utuhnya persaudaraan dan persahabatan.
            Sulit rasanya bagiku melukiskan betapa bahagianya hari itu. Padahal, tidak pernah terlintas dalam benakku, bahwa akan ada kisah yang teramat sayang untuk dilupakan di tanggal yang nyaris tak pernah aku anggap dalam hidupku. Tapi, kejadian tersebut membuat aku justru ingin selalu mengulang cerita yang sama di tanggal yang sama pula. Dan, puncaknya terjadi ketika aku “lunch” hanya “berdua” dengan sahabatku di sebuah warung makan daerah kampus yang membuat aku makin jatuh cinta dengan tanggal itu. Rasanya, ketika aku bisa menghabiskan waktu walau hanya berdua saja dengan sahabatku yang berulang tahun dua hari sebelumnya, tapi kena semprot di tanggal tersebut, membuat cerita di ditanggal tersebut semakin lengkap. Makan siang yang hanya berdua sembari memberi seuntai kado kecil dan murah, membuat aku merasa sahabat itu adalah orang yang tidak akan pernah meninggalkan kita disaat tak ada satupun orang yang peduli dengan kita.
            14 Januari meninggalkan kesan yang cukup mendalam bagi hidupku. Mereka adalah saksi bisu ketika aku mulai jatuh hati dengan tanggal ini. Alasannya simple dan lugas, karena mereka mampu membuat aku tertawa dan ceria, saat itulah aku berpikir betapa berharganya mereka dalam hidupku. Sungguh, aku tidak menyangka semua akan berakhir dengan cerita sempurna yang membuat aku terharu sekaligus bangga. Bangga karena aku bisa ikut campur dalam “event” gila dan spektakuler ini. Spekatakuler karena baik pemeran maupun sang pengisi acara harus terkena getahnya. Gila karena ini kocak dan dramatis.
            Namun, hal ini justru mampu membuat aku terharu karena hari itu aku ajak sahabatku untuk pergi hanya berdua menyusuri damainya kota Jember sembari mencari tempat untuk berteduh dan mengisi tenaga di tengah ramainya pusat kota. Akhirnya, disudut kota aku pun menemukan tempat yang cocok buatku dan dia untuk makan siang berdua dan inilah kali pertama aku menitikkan air mataku di depan umum. Karena, sejak dulu aku tidak pernah mau mengeluarkan air mataku di depan orang. Bukan bermaksud gengsi atau sok jual mahal, tapi dari dulu aku selalu berprinsip aku bukan orang yang mau membagi kesedihan dan air mataku dengan orang lain. Aku selalu berpikir biarlah aku sendiri yang tahu betapa sedih dan lukanya hatiku. Biarlah aku sendiri yang merasakan betapa remuk dan hancurnya jiwaku saat itu. Tapi, ketika sekuat tenaga aku berusaha untuk menahannya untuk tidak jatuh membasahi kelopak mata, setetes air mata bening pun jatuh tanpa bisa kubendung lagi. Apalagi, ketika melihat dia menitikkan air mata, aku semakin tak kuasa menahan tetesan air mata ini.
            14 Januari ku, kau pemilik semua kenangan indah dan masa-masa ku yang teristimewa. Kau juga pemilik semua balutan kisah kelamku di masa lalu. Kau telah mampu meluluhkan kerasnya dinding hatiku saat aku nyaris tak mau mengingat mu dan ukiran kisahnya pun kau balut mesra sehingga membuat aku jatuh hati kepadamu. Aku tak tahu mengapa kini aku sangat mengingat memori manis itu, padahal sedari dulu aku tak pernah menganggap kau ada dalam kalender kehidupanku. Mungkin, dengan begitu pahitnya masa lalu itu, justru membuat aku cinta mati padamu. Bahkan, entah mengapa perlahan tapi pasti aku mulai melupakan semua yang pernah terjadi dan sempat menggoreskan luka di hati.
            Kawanku.. “happy birthday ke-20”. Semoga Allah selalu memberikan yang terbaik untukmu dan semoga apapun yang kau impikan bisa tercapai di usiamu yang kini beranjak dewasa. Tak lupa pula, segala doa kupanjatkan kepada-Nya semoga Allah senantiasa melindungimu dimanapun kau berada. Dan, untuk sahabatku.. “happy birthday ke-20”. Semoga Allah akan tetap memberikan rahmat-Nya kepadamu, semua syafaat-Nya dan mengistikomahkanmu di jalan-Nya. Serta, semoga semuanya berjalan sesuai dengan yang kau harapkan. Selain itu, seberkas doa ku lantunkan kepada-Nya, semoga Allah akan selalu meridhoi setiap derap langkahmu dijalan-Nya dan dari jauh aku berdoa semoga kau mendapatkan yang terbaik dari yang terbaik.


            Untuk kawanku dan sahabatku… Terima kasih karena kisah kalian membuat aku sadar dan mengerti betapa mahalnya semua kisah yang terjadi kemarin dan hari ini. Kini aku sadar, cerita indah itu takkan pernah terlukiskan jika tak ada yang namanya “kekompakan dan persahabatan”. Walau aku harus kena getahnya, walau aku juga basah terkena cipratan airnya, tapi itu semua berakhir dengan indah dan menyenangkan. Sumpah, ini adalah “14” pertama yang mengesankan dan kenangannya masih belum hilang dari ingatan. Kawan dan sahabatku.. Kalianlah dua sosok yang mampu membuat aku tertawa dan berbahagia di tanggal “14”. Jujur, kalian adalah dua orang pertama yang mampu menorehkan kisah manis setelah sekian lama aku mengubur semua cerita di tanggal kelabu itu. Terima kasih karena kalian telah menyentilku bahwa setiap hari akan memiliki cerita yang berbeda dan tak boleh dilewatkan begitu saja. Terima kasih, karena dari kalian aku belajar betapa indahnya hidup damai dan berdampingan tanpa ada perselisihan. Terima kasih karena kalian telah mengajari aku bahwa menyatukan banyak perbedaan bisa kita lakukan ketika hati telah kompak dan bersatu dalam tali pertemanan.

            Kawan dan sahabatku… Maaf jika hanya ini yang bisa aku berikan kepada kalian. Karena aku tak tahu apa yang bisa aku beri setelah begitu banyak yang kalian berikan padaku. Aku tak butuh emas permata, intan berlian ataupun tumpukan uang rupiah. Hanya satu yang kupinta dari kalian, tetaplah jadi teman terbaikku dan tetaplah jadi sahabat yang selalu ada buatku. Karena kalian, aku sadar bahwa “kekompakan” itu mahal harganya. Terima kasih kawan dan sahabatku.. Semoga Allah senantiasa merahmati kalian. Dari jauh aku berdoa untuk kesuksesan kalian berdua. Selamat berjuang. Sampai berjumpa kembali di tangga kesuksesan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar